Konsep Warna dalam Dewata Nawa Sanga (Studi Komparasi Makna Budaya, Makna Berdasarkan Metabahasa Semantik Alami dan Makna Universal)

Konsep Warna dalam Dewata Nawa Sanga

(Studi Komparasi Makna Budaya,

Makna Berdasarkan Metabahasa Semantik Alami dan

Makna Universal)

oleh

Putu Kerti Nitiasih

Universitas Negeri Ganesha Singaraja

ABSTRAK

Pandangan para linguis khususnya para ahli semantik tentang banyaknya definisi makna, memberikan banyak peluang penelitian yang berhubungan dengan makna. Hal ini disebabkan karena makna disamping merupakan sesuatu yang hakiki yang melekat pada suatu bentuk, makna juga merupakan konotasi yang mengkonsepsi dunia nyata berdasarkan perasaan, pikiran dan budaya yang ada padanya yang dapat diartikan dari sudut pandang yang berbeda seperti filsafat, psikologi, sastra. (Odgen & Richard :1923, Wiersbicka (1996).

Penelitian ini khusus mendiskripsikan makna warna dengan konteks budaya Bali khususnya tentang makna warna dalam Dewata Nawa Sanga yaitu sembilan penjuru Dewa yang ada di Bali yang menggunakan symbol warna. Penelitian ini dilakukan karena langkanya penelitian dalam bidang semantik khususnya tentang makna warna yang dilihat dari sudut pandang filsafat, kepercayaa, mitos dan hal-hal yang berhubungan dengan budaya suatu masyarakat. Deskripsi makna warna yang diperoleh dari hasil penelitian ini memberikan sumbangan informasi kepada umat Hindu tentang makna warna, sehingga konsep warna yang ada tidak diterima begitu saja sebagai sebuah mitos yang harus diikuti tanpa pengertian yang logis, akan tetapi dapat dipahami dan dimaknai dengan lebih baik

Sumber data utama penelitian ini adala buku Sistimatika Wariga-Dewasa dan Nawa Sanga ( Marayana : 2001) dan sebagai data tambahan adalah Geguritan Gunatama (lontar dari Kropak 450/2001), dan Kidung Panca Yadnya (I Made Wenten : 2000). Metode analisis utama yang dipergunakan untuk menganalisis data adalah analisis metabahasa semantik alami yaitu suatu cara penguraian makna kata dengan menggunakan eksplikasi atau pengungkapan kembali suatu konsep atau suatu maksud dengan cara lain dengan tujuan memperjelas makna yang tersembunyi. Selain metode di atas, data dalam tulisan ini juga dianalisis dengan menggunakan metode komparasi yang diperkenalkan oleh Lincoln, 1992, yaitu membandingkan konsep warna berdasarkan konsep semantik universal. Hasil kajian dalam tulisan ini disajikan secara diskriptif –kualitatif.

Hasil analisis data menunjukkan bahwa bahwa konsep warna dalam agama Hindu khsusnya dalam Dewata Nawa Sanga merupakan suatu konsep yang diciptakan berdasarkan simbol dan arah mata angin. Hal ini merupakan suatu yang sangat alami mengingat dalam agama Hindu terdapat banyak simbol yang dipergunakan Simbol-simbol tersebut merupakan satu kesatuan yang terintegrasi dengan warna, tektur, bentuk, fungsi, dan atribut lainnya yang dianggap sebagai sesuatu yang utuh yang tidak dapat dipisah-pisahkan, karena istilah warna dianggap sebagai sesuatu yang secara wajar mengandung domain semantik pada ‘dirinya’. Hal lainnya yang mempengaruhi konsep warna dalam Dewata Nawa Sanga adalah adanya keuniversalan yang menggunakan lingkungan sebagai kerangka referensi yang fundamental yang menimbulkan makna konotatif, asosiatif dan kolokatif pada warna yang ada di dalam Agama Hindhu.

 

 

1. Pendahuluan

Bahasa merupakan alat untuk menyatakan makna. Dixon (1992:5) menyatakan bahwa dalam pemakaiannya bahasa akan berawal dari makna dan berakhir dengan makna. Berawal dari makna berarti sebelum menggunakan suatu bentuk bahasa baik secara lisan / tulisan maupun gerakan ( gesture ), pemakai bahasa merumuskan konsep dalam pikirannya terlebih dahulu, dan berakhir dengan makna berarti lawan bicara atau pembaca dapat memahami konsep tersebut secara utuh.

Sehubungan dengan hal tersebut, Wiersbicka (1996) bahkan menyatakan bahwa belajar bahasa tanpa mengacu pada makna merupakan sesuatu yang sia-sia. Oleh sebab itulah makna memberi arti yang sangat penting dalam suatu bahasa.

Ada tiga cara yang dipakai oleh para linguis dan filusuf dalam usahanya menjelaskan makna dalam bahasa manusia : (a) dengan memberikan definisi hakikat makna kata, (b) dengan mendefinisikan hakikat makna kalimat . dan (c) dengan menjelaskan proses komunikasi (Wahab : 1995) Namun pada kenyataannya pemberian makna terhadap sesuatu kadang-kadang menemukan suatu kesulitan. Hal itu disebabkan karena beberapa hal yaitu : (1) makna adalah sesuatu yang hakiki yang melekat pada suatu bentuk (Odgen & Richard : 1923) , (2) sebagai konotasi suatu kata, makna relatif tidak stabil (open-ended) karena pemakai bahasa mengkonsepsi dunia nyata berdasarkan perasaan, pikiran dan budaya yang ada padanya (Odgen & Richard :1923), dan (3) karena makna diartikan dari sudut pandang yang berbeda seperti filsafat, psikologi, sastra dan lain-lainnya, sehingga makna sesuatu dalam hal ini akan berterima jika dijelaskan dari masing-masing sudut pandang tersebut.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka makna warna oleh para teoritisi dikatakan memiliki makna majemuk dimana setiap kata-kata seperti merah, kuning, hitam dan putih mempunyai makna (konotatif) yang berlainan. Mulyana, misalnya memberikan ilustrasi bahwa warna hitam memiliki 12 sinonim yang rata-rata bersifat ofensif termasuk ‘noda’, ‘iblis’, ‘ jelaga’, ‘curang’, ‘ganas’, ‘dahsyat’ ; dan terdapat 134 sinonim untuk warna putih yang hampir semuanya berarti postif seperti ‘murni’, ‘bersih’, ‘suci’, ‘inosen’.

Disamping makna majemuk seperti di atas, Wiersbicka (1996) lebih jauh menyatakan bahwa warna merupakan sesuatu yang sangat spesifik yang sangat sulit untuk diberikan pemaknaannya karena pada semua budaya orang-orang lebih tertarik untuk mengungkapkan makna warna melalui proses ‘ melihat’ yang sifatnya sangat ’contextualized’ Oleh karena itulah penguraian makna warna berdasarkan sudut pandang filsafat, kepercayaa, mitos dan hal-hal yang berhubungan dengan budaya suatu masyarakat, tidak dapat hanya berdasarkan makna konseptualnya saja akan tetapi memerlukan penguraian makna secara lebih rinci yaitu melalui penggunaan makna asali.

Cara pengungkapan / pengkajian makna yang tidak hanya mendiskripsikan makna dari perspektif semantik saja, tetapi menggabungkannya dengan tradisi filsafat, logika dan pendekatan tipologis, oleh Wiersbicka disebut dengan metabahasa semantik alami .

Berdasarkan penjelasan di atas, maka penguraian/ penjelasan tentang konsep warna pada Dewata Nawa Sanga dalam Agama Hindu yang sifatnya sangat khusus karena sangat tergantung dengan budaya dan kepercayaan masyarakat Hindu, perlu dikaji berdasarkan analisis metabahasa semantik alami.

Selain hal tersebut di atas analisis ini juga mempertimbangkan penggunaan teori semiotik khususnya semiotik naratif dan kultural yang menelaah sistim tanda (simbol) yang berlaku dalam budaya masyarakat tertentu (Ikegami: 1985) dan menelaah sistim tanda (simbol) dalam narasi yang bersifat mitos. (Greimas :1987).

Berdasarkan uraian di atas, hal-hal yang dikaji dalam tulisan ini adalah :
Bagaimana dekripsi konsep warna dalam Dewata Nawa Sanga yang ada dalam Agama Hindu berdasarkan teori metabahasa semantik alami ?
Bagaimana fungsi dan makna warna dalam Dewata Nawa Sanga yang ada dalam

Agama Hindu ?

Kedua masalah tersebut di atas dianggap penting untuk dikaji karena memiliki signifikansi yang besar baik secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis kajian ini dapat memberikan informasi dan pemahaman tambahan mengenai konsep warna , terutama makna warna ditinjau dari filsafat. Hal ini disebabkan karena jarangnya penelitian dalam bidang semantik yang dilakukan secara detail, khususnya mengenai konsep warna pada budaya Hindu

Manfaat praktis yang diperoleh dari penulisan ini adalah (1) sebagai bahan informasi untuk melengkapi penelitian yang pernah ada sebelumnya, (2) sebagai data awal untuk melakukan penelitian sejenis yang belum pernah dilakukan, dan (3) memberikan sumbangan informasi kepada umat Hindu tentang makna warna, sehingga konsep yang ada pada Dewata Nawa Sanga tidak diterima begitu saja, akan tetapi dapat dipahami dari makna yang lain.

Terkait dengan kajian ini, penulis mengambil atau mencatat data tertulis sebagai sumber data substantif / yang merupakan data utama dalam analisis ini , yaitu dari buku Sistimatika Wariga-Dewasa dan Nawa Sanga ( Marayana : 2001) ;

Disamping sumber data di atas, sebagai data tambahan dipergunakan pula sumber data tertulis yang diambil dari Geguritan Gunatama (lontar dari Kropak 450/2001), dan Kidung Panca Yadnya (I Made Wenten : 2000), serta dari tuturan lisan informan (Pandita Dewa Nyoman Udaya) yang juga berfungsi sebagai data tambahan yang menunjang data utama.

Metode yang dipergunakan dalam penulisan esei ini terdiri dari 2 metode yaitu ; metode kepustakaan dengan teknik catat untuk sumber data yang diambil dari sumber tertulis (Sudaryanto, 1996 : 33) dan metode linguistik lapangan dengan teknik simak bebas lintas cakap untuk sumber data yang berasal dari tuturan lisan informan

Metode analisis utama yang dipergunakan untuk menganalisis data dalam tulisan ini adalah analisis metabahasa semantik alami yaitu suatu cara penguraian makna kata dengan menggunakan eksplikasi atau pengungkapan kembali suatu konsep atau suatu maksud dengan cara lain dengan tujuan memperjelas makna yang tersembunyi (Kridalaksana : 1984). Penggunaan metabahasa dalam analisis ini dibentuk melalui penggabungan makna asali dengan unsur-unsur lain yang belum dikategorikan sebagai makna asali. Selain metode di atas data dalam tulisan ini juga dianalisis dengan menggunakan metode komparasi yang diperkenalkan oleh Lincoln , 1992 , yaitu membandingkan konsep warna berdasarkan konsep semantik universal dengan konsep warna yang ada pada Dewata Nawa Sanga yang dijelaskan dengan analisis metabahasa semantik alami , sehingga diperoleh makna warna dalam Dewata Nawa Sanga ( Agama Hindu ) secara universal.

Hasil kajian dalam tulisan ini disajikan secara diskriptif -kualitatif dengan

Prosedur : (1) hasil analisis warna yang ada dalam Dewata Nawa Sanga melalui analisis metabahasa semantik alami disajikan secara diskriptif; (2) fungsi dan makna yang diperoleh melalui metode komparasi yang terdapat pada konsep warna dalam Dewata Nawa Sanga dengan konsep warna yang diberikan oleh Anne Wiersbicka disajikan secara kwalitatif.

 

2. KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI

2.1.Konsep Warna

Sampai saat ini belum ada tulisan yang khusus mengkaji makna warna berdasarkan filsafat, mitos maupun kepercayaan. Namun kajian tentang warna yang membantu proses penulisan esei ini telah banyak dilakukan.

Berlin dan Kay ( 1975 ) banyak meneliti tentang warna yang menghasilkan bahwa rancangan fitur universal sistem perspektif penglihatan manusia sangat kuat membatasi sistem terminologi warna.

Jones dan Meehan ( 1978 ) menulis bahwa cahaya merupakan dimensi dasar bagi pemisah untuk dua istilah warna dasar.

Wiersbicka ( 1990 ) menulis bahwa pengertian dari istilah warna dalam bahasa tidak bisa secara pasti merupakan respon dari saraf pada kepingan warna, tetapi lebih banyak dibandingkan dengan pengertian dan kesadaran penutur asli dari suatu bahasa yang mempunyai istilah-istilah tersebut.

Hasil penelitian dan tulisan – tulisan tersebut sangat membantu penulisan esei ini terutama untuk merumuskan makna warna sebelum dilakukan pengkajian makna secara lintas budaya.

Mengingat tulisan ini dikaji berdasarkan analisis metabahasa semantik alami , hasil penelitian yang dilakukan oleh Anik Mayani ( 2000 ) yang meneliti tentang Accomplishment Verb, Agus Tisna Prasetya ( 1999 ) tentang Action Verb dan Oktavianuss tentang Reduplikasi juga sangat membantu dalam kajian ini, terutama karena hasil penelitian tersebut hanya berupa deskripsi saja tanpa adanya analisis lintas budaya.

Dalam kajian ini penulis menerapkan 2 teori dasar. Mengingat kajian merupakan kajian yang dipandang dari 2 cabang ilmu yaitu Teologi dan Semantik, dalam mendiskripsikan konsep warna yang ada dalam Devata Nawa Sanga, penulis menggunakan Metabahasa Semantik Alami oleh Anna Wierbicka.

Teori Metabahasa Semantik Alami tidak hanya mendiskripsikan makna dari perspektif semantik, tetapi juga menggunakan pendekatan lain. Wierbicka (1996 : 23) menyatakan MSA menggabungkan tradisi, filsafat, logika dan pendekatan tipologis dalam mengkaji makna.

Filsafat dan logika berkaitan dengan pengkajian makna karena dunia fakta yang menjadi objek perenungan merupakan dunia lambang yang terwakili oleh bahasa. Dengan memakai pendekatan pemikiran secara filsafat dan logika, MSA berusaha mengungkapkan ketepatan pengkajian makna yang merupakan dasar dalam memahami struktur realitas secara benar.

Dengan menggunakan pendekatan tipologis, MSA menekankan bahwa setiap bahasa memiliki bentuk yang berbeda untuk mengungkapkan makna.

Wierbicka (1996 : 23),menyatakan bahwa warna bukanlah merupakan konsep manusia karena ia bisa diciptakan pada setiap kelompok masyarakat secara berbeda – beda seperti halnya konsep televisi, komputer dan sebagainya.Demikian pula dengan istilah warna itu sendiri bukanlah merupakan fenomena universal .

Dalam bahasa Inggris dan juga dalam bahasa – bahasa lain di dunia, istilah warna dianggap sebagai sesuatu yang secara wajar mengandung domain semantik pada ‘dirinya’. Namun dalam dunia wacana , tidaklah demikian. Agar arti istilah ini dapat dipergunakan dalam semua bahasa maka dipergunakanlah istilah ‘colour semantics’ yang berarti menentukan / memaksakan sesuatu pada pengetahuan dari semua kebudayaan suatu perspektif yang muncul dari beberapa dari masyarakat dalam budaya tersebut.

Pada semua budaya orang-orang lebih tertarik pada proses ’melihat’ , dan menguraikan berdasarkan apa yang mereka lihat. Namun sehubungan dengan warna, manusia merasa tidak perlu untuk membedakannya sebagai aspek yang salah satu aspek dari pengalaman visual mereka. Semua bahasa-bahasa memiliki kata untuk ‘melihat’ tetapi tidak semua bahasa memiliki kata untuk ‘warna’ . Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa dalam kebanyakan budaya kata ‘melihat’ adalah sesuatu yang sifatnya ‘contextualized’ , dan pengalaman dari proses melihat didiskripsikan sebagai sesuatu yang sangat kompleks dan merupakan satu kesatuan yang terintegrasi dengan warna, tektur, bentuk, fungsi, dan atrubut lainnya yang dianggap sebagai sesuatu yang utuh yang tidak dapat dipisah-pisahkan.

Simpulan di atas seolah-olah memberikan sesuatu yang sifatnya universal, terhadap kata ‘seeing’ atau disebut dengan ‘universals seeing’ yang dapat divalidasi melalui ilmu bahasa. Sehingga untuk membuktikan keuniversalan tersebut, fokus penelitian para ahli sebaiknya berubah yaitu dari penelitian tentang ‘colour universal’ menjadi ‘universal of seeing’ , karena tidak pernah ada warna yang universal tetapi ‘ melihat/seeing’ itulah yang sebenarnya merupakan konsep universal manusia.

Banyak penelitian tentang warna yang dilakukan oleh para ahli seperti misalnya penelitian oleh Berlin dan Kay’s ( 1969 ) tentang diskripsi warna yang melahirkan gugusan pengetahuan tentang wacana yang berhubungan dengan kata ‘ melihat’, yang banyak memberikan kontribusi pada teori dari ‘universals of seeing’ pada masa-masa yang akan datang.

Secara khusus penelitian ini menemukan bahwa apa yang sebenarnya bersifat universal atau mendekati universal adalah sebagai berikut :
1. Perbedaan waktu kapan manusia dapat melihat atau apa yang disebut ‘siang hari dan kapan manusia tidak dapat melihat atau ‘malam hari. Secara garis besar manusia cendrung untuk membedakan secara universal antara melihat sesuatu yang kelihatan ‘ terang ‘ dan ‘ bersinar ’, dan juga melihat sesuatu yang kelihatan ‘ gelap ‘ dan ‘tidak mengkilap’. Perbedaan antara warna ‘gelap‘ dan ‘ terang’ tersebut memegang peranan penting dalam bahasa-bahasa di dunia. Bahasa Kuku di Astralia menggunakan istilah bingaji dan ngumbu yang berarti terang dan gelap yang juga dipergunakan untuk mengatakan warna ‘putih’ dan ‘ hitam’
2. Universalitas yang kedua adalah penggunaan lingkungan sebagai kerangka referensi yang fundamental dari manusia untuk mendiskripsikan kata ‘ seeing’ atau ‘melihat’. Kata-kata seperti , view, scenery, landscape memberikan pedoman tentang hal ini terdapat hubungan yang dekat antara ide tentang melihat dengan ide tempat. Jelas dalam hal ini landscape tidak akan kelihatan sama di mana-mana, seperti pula warna dimana tidak semua tanah berwarna coklat karena dibeberapa tempat mungkin saja tanah dilihat berwarna merah, kuning atau hitam oleh masyarakat di masing-masing tempat tersebut. Oleh karena itulah maka prinsip penggunaan ‘common feature’ dari landscape sebagai pola acuan untuk kategori visual pada umumnya dan untuk warna pada khususnya merupakan suatu keuniversalan manusia yang paling penting. Disamping itu prinsip-prinsip ini juga bertanggungjawab terhadap keteraturan munculnya fiitur-fitur dari wacana tentang’ melihat’
3. Fitur keuniversalan atau mendekati universal dari discursi ( wacana) manusia tentang ‘melihat’ yang lainnya adalah pentingnya peran ‘comparison’ / perbandingan atau dengan ungkapan yang lebih tepat adalah penggunaan konsep universal tentang kata ‘like / seperti’ dalam pengalaman visual manusia. Seperti misalnya kata sifat ‘gold’ dan ‘golden’ dalam bahasa Inggris mengilustrasikan mode diskripsi yang sangat bagus dari ‘non-basic clour’, seperti : silver, navy blue, khaki, dan sebagainya. Contoh lain adalah dipergunakannya ‘pengandaian’ dalam bahasa Australia yaitu : yalyu-yalyu ( merah ) yang berarti ‘blood-blood’ ( seperti darah ): walya-walya ( coklat ) yang berarti ‘earth-earth’ ( seperti tanah)

2.2. Dewata Nawa Sanga dan Konsep Warna

Istilah Deva sebagai mahluk Tuhan adalah karena Deva dijadikan ( dicipta-kan ) sebagaimana dukemukakan di dalam kitab Reg Veda X. 129.6. Dengan diciptakan ini berarti Deva bukan Tuhan melainkan sebagai semua mahluk Tuhan yang lainnya pula, diciptakan untuk maksud tujuan tertentu yang mempunyai sifat hidup dan mempunyai sifat kerja ( karma ) .

Disamping pengertian di atas, dalam Reg Veda VIII.57.2, dijelaskan pula tentang banyaknya jumlah Deva yaitu sebanyak 33 yang terdapat di tiga ( 3 ) alam ( mandala ) . Ketigapuluh tiga Deva tersebut terdiri dari 8 Vasu ( Basu ), 11 Rudra, 12 Aditya, Indra dan Prajapati. Kedelapan Vasu tersebut adalah : Agni ( dewa api ), Prthivi ( dewa tanah ), Vayu ( dewa angin ), Dyaus ( dewa langit ), Surya ( dewa matahari ), Savitra ( dewa antariksa ), Soma ( dewa bulan ), dan Druva ( dewa bintang ). Rudra sebagai salah satu aspek Deva-deva, merupakan unsur hidup dan kehidupan yang disebut sebagai Rudra prana. Adapun Deva -deva yang lainnya yaitu Aditya dilambangkan sebagai hukum tertinggi, sebagai pengatur alam semesta di bawah kekuasaan Tuhan.

Selain sifat – sifat Deva dia atas dalam Reg Veda X.36.14 , dijelaskan pula bahwa fungsi Deva adalah sebagai DIKPALA, yaitu penguasa atas penjuru mata angin ( arah ) . Dasar pemikiran ini bersumber pada pengertian bahwa Tuhan Maha Ada, sebagai hakekat yang memenuhi ruang dan waktu. Atas dasar pola pemikiran di atas timbul pula konsep – konsep baru tentang hubungan Deva-deva dengan penjuru arah mata angin dan membaginya menjadi sembilan sesuai dengan arah mata angin yang biasa. Namun menjadi sebelas dimasukkan zenit dan nadir . Kesembilan arah mata angin tersebut secara rinci diuraikan dalam pembahasan berikut.

3. PEMBAHASAN

3.1. Deskripsi Konsep Warna Dalam Dewata Nawa Sanga

Dewata Nawa Sanga digambarkan dengan menggunakan simbol yang berhubungan satu dengan yang lainnya , yang terdiri dari :
1. Gambar dalam bentuk simbol Deva
2. Gambar dalam bentuk senjata
3. Gambar dalam bentuk simbol organ dalam ( jejeron ) manusia
4. Gambar dalam bentuk warna
5. Gambar dalam bentuk simbol lingkungan

Secara rinci dapat dilihat dalam tabel berikut :No Arah Mata Angin Nama Dewa Senjata Simbol organ

( jeroan ) Warna Simbol

lingkungan
1 Utara Wisnu Cakra Empedu Hitam Air
2 Selatan Brahma Gada Hati Merah Api
3 Timur Iswara Bajra Jantung Putih Angin
4 Barat Mahadewa Nagapasah Dubur Kuning Kabut
5 Barat laut Sangkara Angkus Limpa Hijau Mendung
6 Timur laut Sambu Trisula Jaringan Biru Awan tebal
7 Tenggara Mahesora Dupa Paru Dadu Rambu (awan tipis)
8 Barat daya Rudra Moksala Usus Jingga Halilintar
9 Tengah Ciwa Padma Kerongkongan Panca

Warna Topan

 

Mengingat konsep warna dalam Dewata Nawa Sanga berhubungan dengan filsafat dimana hal-hal yang berhubungan dengan budaya serta filsafat sulit sekali untuk menjelaskan maknanya melalui pemberian definisi , maka sesuai dengan teknik analisis data yang disampaikan dalam pendahuluan, pembahasan, analisis konsep warna dalam Dewata Nawa Sanga akan menggunakan pendekatan Metabahasa Semantik Alami dengan menggabungkannya dengan analisis kolokial ( colloquial analysis) dari David Cooper, dimana pemberian makna terhadap sesuatu menggunakan makna kolokialnya

Berdasarkan hal tersebut di atas maka deskripsi warna dalam Dewata Nawa Sanga adalah sebagai berikut :

1. Warna Hitam

X adalah hitam =

a) pada saat itu ada upacara agama Hindu

b) X berada / ditempatkan disebelah utara

c) Ada Dewa Wisnu berkuasa disana

d) Dewa Wisnu membawa senjata Cakra

e) Jika menggunakan jeroan maka empedulah yang dipakai

f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang air

g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
2. Warna Putih

X adalah putih =

a) pada saat itu ada upacara agama Hindu

b) X berada / ditempatkan disebelah timur

c) Ada Dewa Iswara berkuasa disana

d) Dewa Iswara membawa senjata Bajra

e) Jika menggunakan jeroan maka jantunglah yang dipakai

f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang angin

g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
3. Warna Merah

X adalah merah =

a) pada saat itu ada upacara agama Hindu

b) X berada / ditempatkan disebelah selatan

c) Ada Dewa Brahma berkuasa disana

d) Dewa Brahma membawa senjata Gada

e) Jika menggunakan jeroan maka hatilah yang dipakai

f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang api

g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
4. Warna Kuning

X adalah kuning =

a) pada saat itu ada upacara agama Hindu

b) X berada / ditempatkan disebelah barat

c) Ada Dewa Mahadewa berkuasa disana

d) Dewa Mahadewa membawa senjata Nagasapah

e) Jika menggunakan jeroan maka duburlah yang dipakai

f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang kabut

g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
5. Warna Hijau

X adalah hijau =

a) pada saat itu ada upacara agama Hindu

b) X berada / ditempatkan disebelah barat laut

c) Ada Dewa Sangkara berkuasa disana

d) Dewa Sangkara membawa senjata Angkus

e) Jika menggunakan jeroan maka limpalah yang dipakai

f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang mendung

g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
6. Warna Biru

X adalah biru =

a) pada saat itu ada upacara agama Hindu

b) X berada / ditempatkan disebelah timur laut

c) Ada Dewa Sambu berkuasa disana

d) Dewa Sambu membawa senjata Trisula

e) Jika menggunakan jeroan maka jaringanlah yang dipakai

f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang angin

g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
7. Warna Dadu

X adalah dadu =

a) pada saat itu ada upacara agama Hindu

b) X berada / ditempatkan disebelah tenggara

c) Ada Dewa Mahesora berkuasa disana

d) Dewa Wisnu membawa senjata Dupa

e) Jika menggunakan jeroan maka parulah yang dipakai

f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang awan yang tipis

g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
8. Warna Jingga

X adalah jingga =

a) pada saat itu ada upacara agama Hindu

b) X berada / ditempatkan disebelah barat daya

c) Ada Dewa Rudra berkuasa disana

d) Dewa Rudra membawa senjata Moksala

e) Jika menggunakan jeroan maka ususlah yang dipakai

f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang halilintar

g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
9. Warna Brumbun / Panca Warna ( warna campuran antara putih + hitam + merah + kuning

X adalah brumbun =

a) pada saat itu ada upacara agama Hindu

b) X berada / ditempatkan ditengah-tengah

c) Ada Dewa Ciwa berkuasa disana

d) Dewa Ciwa membawa senjata Padma

e) Jika menggunakan jeroan maka kerongkonganlah yang dipakai

f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang topan

g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas

Berdasarkan deskripsi warna diatas, dapatl dikatakan bahwa secara filosofis konsep warna paling berhubungan dengan arah mata angin. Hal ini didukung oleh beberapa data tambahan yang diambil dari 2 sumber yaitu

A. Geguritan Gunatama

Dalam geguritan Gunatama diceritakan bahwa I Guna Tama pergi kepada pamannya Ki Dukuh untuk meminta ilmu pengetahuan di Gunung Kusuma . Hal pertama yang oleh Ki Dukuh perintahkan kepada I Gunatama adalah agar ia belajar berkonsentrasi melalui pemahaman terhadap warna bunga. Hal itu dapat dilihat pada geguritan berikut :

Bunga petak maring purwa,

kembang jingga gnewan sami,

sekar abang ring daksina,

ring pascima kembang jenar, mapupul maring wayabia,

Bunga ireng ring utara,

ersania birune sami,

mancawarnane ring madia,

punika tandur ring kayun, apang urip dadi mekar,

to uningin, patute anggon padapa.

Geguritan tersebut berarti :

“ Bunga putih ditimur, bunga jingga gnewan semua, bunga merah di selatan, yang di barat bunga kuning, berkumpul di barat laut. Bunga hitam di utara, timur laut semuanya biru, panca warna di tengah, itulah ditanam di hati, supaya hidup berkembang, ketahuilah itu, kebenaran dipakai selimut “
B. Kidung Aji Kembang yang dilagukan dalam upacara Ngaben ( Ngereka )

1) Ring purwa tunjunge putih, Hyang Iswara Dewatannya.

Ring papusuh prehania, alinggih sira kalihan, panteste

kembange petak.Ri tembe lamun numadi suka sugih

tur rahayu dana punya stiti bakti

2) Ring geneyan tunjunge dadu, Mahesora Dewatannya

Ring peparu prenahira. Alinggih sira kalihan, Pantesta

kembange dadu, Ri tembe lamun dumadi

widagda sire ring niti, subageng sireng bhuwana

3) Ring daksina tunjunge merah, Sang Hyang Brahma Dewatannya

Ring hati prenahira. Alinggih sira kalihan

Pantesta kemabng merah. Ring tembe lamun dumadi

Sampurna tur dirga yusa. Pradnyan maring tatwa aji

4) Ring Nriti tunjunge jingga. Sang Hyang Rudra Dewatannya

Ring usus prenahira,Alinggih sira kalihan. Pantes

te kembange jingga, Ring tembe lamun numadi,

Dharma sira tur susiila. Jana nuraga ring bhumi

5) Ring Pascima tunjunge jenar, Mahadewa Dewatannya

Ring ungsilan prenahira, Alinggih sire kalihan, Pantesta

kemabnge jenar, Ring tembe lamun dumadi,

Tur Sira Cura ring rana, prajurit, watek angaji

6) Ring wayabya tunjunge wilis, Hyang Sangkara Dewatannya

Ring lima pranahira, alinggih sira kalihan. Pantesta

kembang wilis. Ring tembe lamun dumadi, Teleb

tapa brata, gorawa satya ring bhudi

7) Ring utara tunjungeireng. Sang Hyang Wisnu Dewatannya

Ring ampu prenahira,Alinggih sira kalihan.

Panteste kembange ireng, Ring tembe lamun numadi,

Suudira suci laksana, surupa lan sadu jati

8) Ring airsanya tunjunge biru . Sang Hyang Sambu Dewatannya

Ring ineban prenahira,Alinggih sira kalihan.

Panteste kembange biru , Ring tembe lamun numadi,

Pari purna santa Dharma, sidha sidhi sihing warga

9) Tengah tunjunge mancawarna . Sang Hyang CiwaDewatannya

Tumpukung hati prenahira,Alinggih sira kalihan.

Panteste kembange mancawarna , Ring tembe lamun numadi,

Geng prabhawa sulaksana, satya bratha tapa samadi

Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, arti dari masing-masing geguritan di atas sama dengan diskripsi warna dalam Dewata Nawa Sanga, tambahan yang diberikan adalah adanya akibat dari penggunaan tunjung (teratai) dengan sembilan warna tersebut adalah sebagai berikut :

¨ penggunaan tunjung warna putih akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang kaya raya, dermawan dan sejahtera

¨ penggunaan tunjung warna dadu akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang kaya raya, dermawan dan sejahtera

¨ penggunaan tunjung warna merah akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang kaya raya, dermawan dan sejahtera

¨ penggunaan tunjung warna biru akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang sempurna , dan pintar (berilmu pengetahuan)

¨ penggunaan tunjung warna jingga akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang sabar serta menjalankan Dharma, susila,

¨ penggunaan tunjung warna hijau akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yangberani bertarung di medan laga, sebagai prajuurit sejati dengan watak yang sangat baik ( berpendidikan )

¨ penggunaan tunjung warna kuning akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang tekun mengerjakan tapa , brata, dan mempunyai budi yang luhur

¨ penggunaan tunjung warna hitam akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang berkelakuan baik, suci laksananya, tampan dan dan senantiasa menimbulkan kedamaian

¨ penggunaan tunjung panca warna akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang keseluruhan hidupnya diliputi oleh kebaikan, disayangi oleh setiap orang

Disamping hal tersebut di atas dapat dikatakan bahwa dari 8 warna dasar yang diberikan oleh Berlin dan Kay, dalam Agama Hindu terutama dalam Dewata Nawa Sanga terdiri dari dari empat warna dasar yaitu : merah, putih, kuning, dan hitam. Hal ini disebabkan karena warna hijau yang berada di barat laut ( barat dan utara ) merupakan perpaduan antara kuning dan hitam ; warna dadu yang berada di tenggara ( timur dan selata ) merupakan perpaduan antara putih dengan merah ; warna jingga yang berada di barat daya ( barat dan selatan ) merupakan perpaduan antara merah dengan kuning.

3. Fungsi dan Makna Warna dalam Dewata Nawa Sanga ( Agama Hindu )

Berdasarkan simbol simbol yang ada dalam Dewata Nawa Sanga, maka fuungsi dan makna warna dalam Dewata Nawa Sanga dalam Agama Hindu dapat dianalisis seperti dibawah ini :

1. Makna warna hitam yang berada disebelah utara dengan Dewa Wisnu menurut budaya hindu berarti gunung, dengan fungsi sebagai pemelihara. Menurut makna MSA berarti arang, gelap, sedangkan makna universal memiliki makna : heightàgreatness, massà generousity, source of living, gelap, ketakutan, sial, kematian, penguburan, penghancuran, berkabung, anarkisma, kesedihan, suram, gawat (kesan buruk) dan (kesan baik) berarti : kesalehan, kealiman, kemurnian, kesucian, kesderhanaan India ; pemelihara kehidupan, limitless, immortal

2. Makna warna Merah yang berada di Selatan dengan Dewa Brahma dengan pusaka Gada dan tanda api memiliki makna budaya laut, pencipta dan kekuatan, sedangkan menurut MSA berarti api dan darah. Makna universal yang terkandung dalam warna merah adalah : sumber dari segala sumber, berani, cinta , emosi , darah (rudhira), kehidupan, kebesaran, emosi, kemegahan, murah hati, cantik, hangat, berani, api, panas, bahaya, cinta (manusia à ß Tuhan), perang, sumber panas, benih dari kehidupan

3. Makna warna Putih dengan Dewa Iswara yang bersenjata Bajra, berada di sebelah Timur, dan dengan tanda jantung mempunyai makna matahari, pelebur, dan sumber kebangkitan. Makna putih dari MSA berarti terang, salju, dan susu dan makna universal berarti penerangan, pahlawan , sorga, kebangkitan, centre of human body, cinta, kesetiaan, penyerahan diri, absolut, suci, murni, lugu, tidak berdosa, perawan, simbol persahabatan, damai, jujur, kebenaran, bijaksana, alat untuk mencapai surga, ß kekeuatan angin

4. Makna warna Kuning disebelah Barat dengan Dewa Mahadewa dengan senjata Nagasapah dan tanda lingkungan kabut memiliki makna budaya matahari terbenam, penjaga keseimbangan dan kekuasaan, sedangkan MSA berarti matahari. Makna universal dari warna kuning adalah end of journey, passive, (bad image) ; cemburu, iri, dengki, dendam,bohong, penakut, (good image) ; cahaya, kemuliaan, keagungan, kesucian, murah hati, bijaksana, penyatuan unsur udara + air dan tanah à evolutive process:

5. Makna warna Hijau yang berada di sebelah barat laut dengan Dewa Sangkara dan senjata angkus, dengan tanda lingkungan mendung memiliki makna budaya penyatuan matahari terbenam & laut, keseimbangan, kesempurnaan dalam MSA berarti tumbuh-tumbuhan, dan secara universal memiliki makna akhir dari segalanya, tumbuhan, kehidupan, kesuburan, vitalitas, muda, kelahiran kembali, harapan, kebebasan, dan simbol : kesuburan, kurir (messenger ), prophet:

6. Makna warna Biru yang dalam Dewata Nawa Sanga berada di Timur Laut dengan Dewa Sambu bersenjata Trisula, dengan tanda lingkungan awan tebal memiliki makna budaya penyatuan matahari & laut, keseimbangan alam, penyatuan kebang-kitan, pemeliharaan dan pemusnahan ; kebebasan rohani. Dalam MSA biru berarti laut, langit, sedangkan makna universalnya adalah sumber dari segala sumber, senser, assosiated with the idea of birth and rebirth, sorga, langit, bangsawan, melankolis, jujur, cinta, setia, kebenaran, distincttion, excellence, kesedihan, dan makna asosiasi : hujan à banjir à kesedihan:

7. Makna warna Dadu yang dalam Dewata Nawa Sanga berada disebelah tenggara dengan dewa Mahesora bersenjata dupa dan tanda lingkungan rambu (awan tipis) memiliki makna budaya penyatuan antara gunung dan matahari, keseimbangan alam, pembunuh indria. Menurut MSA, warna dadu memiliki makna yang sama dengan makna asali dari warna putih dan merah. Makna universalnya adalah : kebangkitan, kesadaran, kesadaran, kehidupan, halus, anggun, megah, persahabatan, kedamaian, emosional, dan dingin

8. Makna warna Jingga dengan Dewa Rudra bersenjata Moksala yang berada di sebelah Barat Daya dengan tanda lingkungan halilintar, memiliki makna budaya penyatuan matahari terbenam dan gunung, pembasmi, kedahsyatan, sumber kemurkaan. Sedangkan makna Jingga menurut MSA merupkan makna yang terkandung dalam warna merah dan kuning. Makna Universal warna kuning adalah darah, the concept of circulation, kematian, bahaya, kehidupan, hangat, dendam, murka, pengorbanan, penyerahan diri, active force, supreme creative power, illumination, penyerahan, dan pengorbanan.

9. Makna warna Brumbun yang merupakan campuran warna putih + kuning + hitam + merah yang berada di tengah dengan Dewa Ciwa bersenjata Padma dan tanda lingkungan topan memiliki makna budaya pusat, pemusnah dan dasar dari semua unsur, kesucian. Makna warna ini menurut MSA adalah makna asali dari warna putih, kuning, hitam dan merah, sedangkan makna universalnya adalah : moving from : multiplicityà unity, space à spacelessness, time à timelessness, a mean toward contemplation and concentration, kesucian, victory, denote the interco-munication between inferior and the supreme, 5 = health, love , controller, violent, evil power

Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa Konsep warna dalam agama Hindu khsusnya dalam Dewata Nawa Sanga merupakan suatu konsep yang diciptakan berdasarkan simbol dan arah mata angin. Hal ini merupakan suatu yang sangat alami mengingat dalam agama Hindu terdapat banyak simbol yang dipergunakan Simbol-simbol tersebut merupakan satu kesatuan yang terintegrasi dengan warna, tektur, bentuk, fungsi, dan atribut lainnya yang dianggap sebagai sesuatu yang utuh yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Hal ini didukung oleh pendapat Anne Wierbicka ( 1996 ) yang menyatakan bahwa konsep warna bisa diciptakan pada setiap kelompok masyarakat secara berbeda – beda seperti halnya konsep televisi, komputer dan sebagainya. Oleh karena itu dalam bahasa Inggris dan juga dalam bahasa – bahasa lain di dunia, istilah warna dianggap sebagai sesuatu yang secara wajar mengandung domain semantik pada ‘dirinya’. Hal lainnya yang mempengaruhi konsep warna dalam Dewata Nawa Sanga adalah adanya keuniversalan yang menggunakan lingkungan sebagai kerangka referensi yang fundamental

Penggunaan simbol yang merupakan satu kesatuan yang terintegrasi dengan warna, tektur, bentuk, fungsi, dan atribut lainnya yang utuh dan tidak dapat dipisah-pisahkan menimbulkan makna konotatif, asosiatif dan kolokatif pada warna yang ada di dalam Agama Hindhu.

4. SIMPULAN

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dapat ditarik simpulan sebagai berikut :
Makna warna dalam Dewata Nawa Sanga secara khusus dan dalam Agama Hindu secara umum memiliki konotasi yang sangat kuat dengan arah mata angin. Disamping makna konotatif tersebut, makna warna dalam Agama Hindhu banyak mengacu pada simbol-simbol seperti simbol senjata , simbol organ dalam tubuh, serta simbol lingkungan. Oleh karena itulah makna warna dalam Dewata Nawa Sanga memiliki makna konotatif, asosiatif,khusus, dan kolokatif.
Ada perbedaan makna warna yang terdapat dalam Dewata Nawa Sanga dan makna warna yang diuraikan dengan menggunakan analisis Metabahasa Semantik Alami oleh Anne Wierbicka ( 1996). Hal ini karena warna dalam Dewata Nawa sanga memiliki makna khusus sesuai dengan filsafat Agama Hindhu. Namun meskipun demikian dengan melalui analisis makna yang lebih detail, ditemukan bahwa sebenarnya makna warna yang ada pada masyarakat didunia ini adalah sama diantara kekhususan yang ada.
Universal karena filsafat , religious berdasarkan filasafat Timur yang lebih dulu ada dibandingkan filsafat Barat. Oleh karena itu jelas filsafat Barat berorientasi pada filsafat Timur. Konsep warna merupakan konsep yang ada juga pada filsafat Timur, sehingga analisis dari konsep warna ditinjau dari filsafat Barat ( ilmu pengetahuan ) merupakan konsep yang universal . Filsafat Timur kurang berkembang karena tentang agama sedangkan filsafat Barat yang berkembang karena tentang ilmu pengetahuan.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: