DUNIA PENUH WARNA

dunia yang penuh warna.

Di bawah ini akan saya teruskan cerita dunia kami, dunia yang penuh warna.

Dunia memang tidak lagi HITAM dan PUTIH sekarang, di tahun 3618 warna telah menyebar begitu cepat, 250 tahun setelah turunnya warna yang pertama 50% penduduk planet kami telah menjadi pemeluk salah satu warna.

Mereka yang menyebut dirinya berpendidikan, berbudaya dan beradab bisa dipastikan telah memeluk salah satu warna dan memanggil manusia lain yang belum mengenal warna tidak beradab, liar, barbar!

Ketika ditanya apa sebabnya warna begitu cepat menyebar, dan apa keuntungan dari memeluk warna, maka 80% pemeluk warna menjawab bahwa warna memberikan mereka sesuatu untuk dipercaya. “MERAH itu indah dan penuh kekuatan”, kata Karma Suwarna, bapak 3 anak berumur 45 tahun yang memiliki perusahaan sendiri.

“Dengan adanya MERAH maka hidup saya jadi berarti dan memiliki makna, begitu juga hidup anak dan istri saya”, dia meneruskan, “saya tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa warna MERAH.”

Sarwa Sukarma, juga memiliki pendapat yang kurang lebih sama tentang warnanya. “HIJAU adalah kehidupan dan membuat saya percaya pada kekuatan alami dan perlindungan lingkungan”, dia berkata di depan rumahnya yang dikelilingi hamparan sawah milik keluarganya. “Pada HIJAU saya menemukan ketenangan karena saya percaya dan saya beriman” tandasnya.

Bagi para pemeluk warna KUNING, MERAH, HIJAU, BIRU dan UNGU, warna-warna yang mereka percayai itu selain memberikan panduan tentang hidup berdasarkan nilai-nilai yang dibawa oleh warna-warna tersebut (menurut mereka) juga memberikan perlindungan, penghargaan, karunia kalau mereka mengikuti aturan warnanya, dan hukuman jika mereka melanggar apa-apa yang dilarang (menurut mereka) oleh warna tersebut.

Aturan sosial dan norma dalam hubungan sosial manusia medapat legitimasi suprawarna, karena aturan-aturan tersebut seolah-olah datang dan dipandu dari warna-warna tersebut, walaupun sebenarnya sudah ada sebelum warna-warna ada, ketika dunia masih HITAM dan PUTIH.

Warna karenanya, baik itu KUNING, HIJAU atau manapun dianggap sebagai sumber kebaikan dan hidup setelah ada warna sebagai masa yang lebih baik dan lebih berwarna daripada masa sebelumnya yang gelap dan pucat.

Hingga tahun 3868, kehidupan di planet kami mendengung dinamis dengan diskusi, pemikiran, ide dan inovasi yang berkaitan dengan warna-warna.

Selain nilai-nilai kebaikan yang katanya “berasal” dari warna, salah satu kelebihan warna yaitu: Karena warna adalah sesuatu yang sosial, dan karena manusia adalah mahluk sosial.

MERAH akan berkumpul dengan MERAH, dan KUNING akan berkumpul dengan KUNING, karena warna tersebut adalah sesuatu yang mereka miliki bersama, sesuatu yang mereka share, dan karena itu sesuatu dimana mereka terikat dan mengikat diri.

“Dengan warna, maka kami menemukan persamaan diantara wajah-wajah yang asing”, begitu ungkap Rahwarna Karma, aktivis muda calon pemimpin bangsa.

Berkumpul bersama warna yang sama jauh lebih mudah daripada berkumpul bersama warna lain, karena pertama, lebih enak dimata, kedua pada saat itu masing-masing warna telah memiliki kebiasaan dan gaya mereka masing-masing sehingga berkumpulnya warna yang berbeda akan membuat situasi yang kurang nyaman.

Warna juga diturunkan pada pada keturunan. Bapak ibunya yang berwarna HIJAU, maka anaknya juga HIJAU misalnya.

Karena itu perkawinan, pertemanan, hubungan sosial maupun ekonomi sebaiknya pun harus dalam warna yang sama. Bertemanlah dengan teman dari warna yang sama. Menikahlah dalam warna yang sama. Berkumpulan dalam warna yang sama. (ini semua ada di kitab masing-masing warna).

Warna juga merubah cara manusia melihat dunia. Pemeluk MERAH akan melihat dunia dengan kemerah-merahan. KUNING dengan kekuning-kuningan. Hijau akan melihat dunia dengan bernuansa HIJAU.

Karena ini maka masing-masing warna tidak bisa melihat warna lain dengan sebenarnya. HIJAU yang dilihat oleh KUNING akan menjadi HIJAU kekuning-kuningan. MERAH yang dilihat oleh mereka yang hijau akan menjadi hijau kemerah-merahan.

Yang menarik adalah, walaupun ikatan dan tekanan untuk mempertahankan sebuah warna sangat kuat, tapi orang bukan tidak mungkin berganti warna. Bukan tidak mungkin untuk berganti warna, terutama tentu untuk mereka yang sudah istilahnya sudah “tercerahkan” atau sudah mendapat cahaya, menurut warna barunya. KUNING menjadi HIJAU. HIJAU menjadi MERAH. MERAH menjadi KUNING.

Ini tentu ditentang dan dihujat dengan keras oleh masing-masing pemeluk warna. Orang yang berpindah warna dari warna manapun akan dicap sebagai pengkhianat, walaupn yang mereka lakukan hanya berubah warna. Orangnya sama dan hampir semua warna mengajarkan nilai-nilai yang sama.

Di tahun 4031, lebih dari 1000 tahun setelah warna pertama turun, kehidupan warna di planet kami telah menjadi begitu established. Warna adalah sesuatu yang menuntut ekslusivitas, pemeluk warna tertentu hanya bisa memeluk warna tersebut dan tidak yang lain.

Masing-masing pemeluk warna percaya bahwa warnanyalah yang benar dan warna lain salah.

Pemikiran yang menyebabkan sebagian orang-orang melek warna geleng-geleng kepala, bagaimana mungkin ada warna yang benar dan warna yang salah?

Ini kan “WARNA”.

MERAH tidak lebih benar daripada KUNING, dan KUNING tidak lebih benar daripada HIJAU.

Bagaimana menetukan warna mana yang lebih benar atau lebih baik? WARNA tidak bisa dibandingkan, mereka cuma berbeda tapi bukan berarti yang satu lebih baik daripada yang lain.

Walaupun begitu toh para pemeluk warna yang lebih banyak tidak peduli. Apalagi ini sesuatu yang berkaitan dengan kepercayaan mereka, dengan keimanan mereka, buat banyak orang warna adalah segalanya.

Karena mereka percaya warna mereka adalah yang terbaik, maka penyebaran warna menjadi krusial karena dengan begitu mereka menyebarkan kebaikan bagi mereka yang belum tahu.

Niatan ini dan digunakannya warna oleh mereka yang berkuasa menjadi sumber konflik, kesedihan dan kesusahan pertama yang dibawa oleh warna di planet kami.

Penguasa senang menggunakan warna karena orang lebih bersedia mati untuk warna daripada untuk penguasa dan warna bisa menyatukan kekuasaannya dengan lebih sempurna

Pemimpin warna pun senang berdekatan dengan penguasa karena bisa menyebarkan warnanya lebih luas dan dengan kekerasan

Konflik antar warna tidak terhindarkan, untuk menghindari konflik maka ada dua alternatif, hidup dengan memisahkan diri dan tidak bercampur, atau mencari sebuah mekanisme khusus yang mengatur hubungan antar warna.

Walaupun konflik antar warna cukup keras tapi ternyata itu belum apa-apa.

Sejarah telah menunggu untuk memperlihatkan kami antara konflik dasyhat antara warna itu sendiri.
&nbsp

Pada tahun 3242, 1200 tahun dari warna pertama turun, warna-warna telah menjadi begitu bervariasi sesuai dengan selera dan kebiasaan masing-masing tempat.

MERAH tidak lagi cuma “MERAH” tapi juga ada merah marun, merah tua, merah muda, merah darah, merah menari, merah konservatif, merah tradisional, merah kota, merah desa, merah santri, merah liberal dan tentu, merah fundamentalis.

Masing-masing merasa sebagai MERAH, sebagian lagi merasa sebagai MERAH yang paling benar dan memaksakan merahnya pada yang lain.

Konflik di dalam warna ini untuk sementara waktu membuat konflik antar warna mereda.

Perbedaan paham dan iman yang berlangsung selama beratus-ratus tahun juga menyebabkan perbedaan pemahaman akan warna yang sama.

MERAH MARUN bermusuhan sengit dengan MERAH MUDA. Masing-masing mengkafirkan MERAH yang lain. Menjadi MERAH MARUN bahkan dilihat sebagai lebih buruk daripada menjadi HIJAU atau KUNING.

Ketika terjadi peperangan antara MERAH MUDA dan HIJAU maka MERAH MARUN akan diam menunggu dan melihat-lihat keadaan.

Tidak berlaku my enemy’s enemy is my friend. MERAH MARUN memilih untuk bermusuhan dengan semua pihak, thus berlaku my enemy’s enemy is stil my enemy.

Dan ini masik berlaku hingga sekarang.

Pada tahun 3542, kelompok-kelompok HIJAU terbagi menjadi dua bagian besar. HIJAU MUDA dan HIJAU TUA, dan dengan didukung oleh kekuatan militer dan raja-raja, konflik antara hijau muda dan hijau tua ini terjurumus pada konflik paling berdarah selama sejarah planet kami, yang melibatkan penyiksaan, pemaksaan warna dan lain-lain.

Di ujung masa konflik ini, beberapa kelompok orang berpindah mecari lokasi baru dan BERSUMPAH untuk mencari tempat dimana mereka bisa bisa bebas dari ketakukan dan kejaran para pemeluk WARNA. Suatu tempat dimana semua orang bisa memiliki kebebasan memilih WARNA yang mereka inginkan tanpa rasa takut.

Singkatnya mereka berangkat untuk mencari surga.

1,500 tahun telah berlalu sejak WARNA pertama hadir di dunia kami dan sudah sedemikian lama pula kami terlupa akan realita planet kami sebelumnya dimana hanya ada HITAM dan PUTIH, dimana kami semua sama.

Bukannya WARNA tidak membawa kebaikan dan manfaat bagi kami, hanya sekarang ini banyak orang bertanya-tanya manakah yang lebih besar, manfaatnya atau keburukannya dari warna. Apakah kita akan lebih baik jika WARNA tidak pernah ada? Jika dunia hanya HITAM dan PUTIH.

Sebagian orang menuduh bahwa WARNA adalah ciptaan manusia biasa dan bukan diturunkan dari langit dan karenanya tidak dimaksudkan untuk dipercaya apalagi, dijadikan alasan untuk memerangi orang lain yang berbeda WARNA-nya.

Tapi sejarah belum lagi berhenti.

Akankah mereka yang mencari surga di dunia menemukannya?

Dan bagaimana akhir cerita dunia kami?

Kamu bisa baca di email terakhir saya berikutnya

 

Islam mewariskan khazanah ilmu pengetahuan yang sangat kaya kepada peradaban modern. Berbagai macam penemuan para ilmuan Islam masih tetap berlaku dan dikembangkan hingga saat ini.

Mulai dari bidang pertanian, pertambangan, kesenian, ilmu-ilmu sosial, kedokteran, hingga manajemen pelayanan pos, merupakan tindak lanjut dari warisan Islam.

Di bidang kedokteran, banyak dokter Muslim berhasil menciptakan metode-metode pengobatan. Mereka berhasil menemukan aneka terapi untuk menyembuhkan ragam jenis penyakit. Salah satunya adalah terapi warna atau lebih dikenal kromoterapi.

Kromoterapi merupakan metode perawatan penyakit dengan menggunakan warna-warna. Terapi ini merupakan terapi suportif yang dapat mendukung terapi utama. Menurut praktisi kromoterapi, penyebab dari beberapa penyakit dapat diketahui dari pengurangan warna-warna tertentu dari sistem dalam tubuh manusia.

Kromoterapi, kadang-kadang disebut terapi warna atau colorology, merupakan metode obat alternatif. Dengan kata lain, seorang dokter (praktisi terapi) yang terlatih dalam kromoterapi dapat menggunakan warna dan cahaya untuk menyeimbangkan energi dalam tubuh seseorang yang mengalami kekurangan baik fisik, emosi, spiritual, maupun mental. Terapi cahaya terbukti dapat meringankan penyakit depresi yang tinggi.

Ahli kromoterapi menyatakan, mereka melakukan praktik sesuai dasar ilmiah. Menurut hasil penelitian mereka, warna membawa reaksi emosional manusia.

Standar metode diagnosa menggunakan “tes warna luscher”, dikembangkan oleh Max Luscher ( 1923) pada awal 1900-an. Saat kromoterapi dilakukan, warna dan cahaya diterapkan ke daerah-daerah tertentu pada tubuh. Warna terkait dengan efek positif dan efek negatif. Dalam terapi warna, warna spesifik serta jumlah warna dianggap penting dalam penyembuhan.

Beberapa alat yang digunakan untuk menerapkan warna adalah batu permata, lilin, tongkat wasiat, prisma, kain tenun warna, dan kaca/lensa warna. Terapeutik (pengobatan) warna dapat diadministrasikan dalam beberapa cara, tetapi sering dikombinasikan dengan hidroterapi (terapi air) dan aromaterapi (terapi aroma/wewangian) dalam upaya untuk mempertinggi efek terapeutik.

Ibnu Sina dan Terapi Warna
Menurut catatan sejarah, terapi warna diperkirakan berasal dari tradisi India kuno, yang diajarkan dalam Ayurveda. Masyarakat India sudah mempraktikkan terapi tersebut sejak ribuan tahun silam. Sumber sejarah lain menyebutkan, terapi ini berasal dari tradisi Cina dan Mesir kuno. Dijelaskan bahwa orang Mesir kuno telah membangun solarium, sejenis kamar, yang dipasangi dengan kaca jendela berwarna. Matahari akan bersinar melalui kaca dan pasien dibanjiri dengan warna.

Dalam sebuah artikel yang ditulis Michelle Caldwel, Smallpox: Is the Cure Worse Than the Disease?, disebutkan pada akhir abad ke-19 M, penderita penyakit cacar di Eropa dirawat di ruang yang ditutupi dengan kain berwarna merah untuk menyembuhkan pasien.

Terapi serupa telah dipraktikkan oleh dokter Muslim pada abad ke-10 M. Tokoh Islam yang memperkenalkan kromoterapi adalah Ibnu Sina (980 M-1037 M), yang dikenal oleh masyarakat Barat dengan nama Avicenna. Kurang lebih sembilan abad sebelum orang Barat mengenal kromoterapi, Ibnu Sina sudah menggunakan warna sebagai salah satu sarana penting dalam mendiagnosa (mengenali) penya kit dan untuk pengobatan.

Di dalam adikaryanya yang berjudul Al-Qanun fi At-Thibb (The Canon of Medicine), Ibnu Sina mengungkapkan bahwa warna merupakan gejala yang nampak dalam penyakit. Ia juga telah berhasil mengembangkan grafik hubungan antara warna dengan suhu tubuh dan kondisi fisik tubuh.

Ibnu Sina juga melakukan klasifikasi warna dan fungsi-fungsinya dalam proses penyembuhan si sakit. Ia mengemukakan bahwa warna merah memindahkan darah, biru atau putih mendinginkan, dan kuning mengurangi rasa sakit pada otot dan radang mata. Ibnu Sina adalah orang pertama yang membuktikan bahwa warna yang salah yang digunakan untuk terapi dapat menyebabkan tidak adanya respons dalam penyakit yang spesifik.

Warna yang salah selama proses terapi tidak akan mendapat respons dari penyakit tertentu, ujarnya dalam Al-Qanun fi At-Thibb. Diceritakan oleh Samina T. Yousuf Azeemi dan S. Mohsin Raza dalam A Critical Analysis of Chromotherapy and Its Scientific Evolution, Ibnu Sina suatu saat mengamati orang yang mimisan/hidung berdarah. Menurutnya, orang yang mimisan seharusnya tidak melihat warna merah yang mencolok dan tidak boleh terkena sorot lampu merah. Warna merah akan mendorong cairan sanguin (sanguineous humor). Orang mimisan, menurut Ibnu Sina, harus melihat warna biru. Berbeda dengan warna merah, warna biru akan meringankan dan mengurangi aliran darah.

Mengenal chakra
Di dalam tradisi India, dikenal yang namanya chakra, yakni titik atau simpul energi dalam tubuh manusia. Menurut konsep chakra, kesehatan adalah kesatuan menjaga keseimbangan fisik dan emosi. Di India, sekelompok ahli pengobatan Ayurvedic menjelaskan, warna yang terkait dengan tujuh chakra utama, yang menurut sistem mereka merupakan pusat rohani di tubuh, terletak di sepanjang tulang belakang, jelas Dorothy Parker, dalam karyanya Color Decoder.

Terdapat tujuh chakra dan masing-masing terkait dengan organ tertentu dalam tubuh. Tiap chakra memiliki warna dominan, tetapi ini dapat menjadi warna yang tidak seimbang. Jika hal ini terjadi dapat menyebabkan penyakit dan percabangan fisik lainnya, kata Dorothy Parker.

Dengan memperkenalkan warna yang sesuai, penyakit ini dapat diperbaiki. Ketujuh chakra tersebut adalah, pertama, warna merah, terletak di bagian bawah tulang belakang. Warna ini digunakan untuk merangsang tubuh dan pikiran serta meningkatkan sirkulasi. Kedua, warna orange, terletak di daerah panggul. Digunakan untuk menyembuhkan paru-paru dan untuk meningkatkan energi. Ketiga, warna kuning, terletak pada solar kekusutan. Digunakan untuk mendorong urat dan membersihkan tubuh. Keempat, warna hijau, terletak di jantung. Kelima, warna biru, terletak di tenggorokan. Digunakan untuk mengobati penyakit dan meringankan rasa sakit. Keenam, warna indigo, yakni di bagian rendah pada dahi. Digunakan untuk meringankan masalah kulit. Ketujuh, warna violet, terletak di atas kepala.

Meskipun kromoterapi telah dibuktikan manfaatnya oleh Ibnu Sina dan tradisi India, namun tidak membuatnya bebas dari kritik. Beberapa kritikus kromoterapi me lontarkan pandangan bahwa ilmu kedokteran ini adalah palsu belaka. Mereka juga menuturkan belum ada bukti bah wa warna adalah unsur kunci dalam proses penyembuhan bagi si sakit.

Ibnu Sina, Dokter Muslim yang Mengajarkan Kromoterapi

Bapak Pengobatan Modern, begitulah sebagian orang menjulukinya. Ibnu Sina yang di dunia Barat dikenal dengan nama Avicenna, disebut-sebut sebagai dokter Muslim pertama yang menerapkan kromoterapi dalam pengobatannya. Hal tersebut dicantumkan dalam karyanya Al-Qanun fi At-Thibb (The Canon of Medicine).

Dia mempelajari kedokteran sejak usia 16 tahun. Bahkan memperoleh predikat sebagai seorang fisikawan pada usia 18. Dalam dunia kedokteran, ia tak hanya mempelajari teori kedokteran, tetapi juga pera watan/pelayanan pada orang sakit. Melalui perhitungannya sendiri, ia menemukan metode-metode baru dari perawatan/pengobatan.

Ibnu Sina mengatakan, ”Kedokteran tidaklah ilmu yang sulit ataupun menjengkelkan, seperti matematika dan fisika sehingga saya cepat memperoleh kemajuan. Saya menjadi dokter yang sangat baik dan mulai merawat para pasien menggunakan obat-obat yang sesuai.

Selain mendapat gelar Bapak Pengobatan Modern, masih banyak lagi predikat kehormatan yang diterimanya di bidang kedokteran. Itu terkait dengan ke agungan karya-karya yang telah beliau hasilkan. Karyanya yang sangat terkenal adalah Al-Qanun fi At-Thibb (The Canon of Medicine) yang merupakan rujukan utama di bidang kedokteran selama berabad-abad.

Avicenna yang juga dikenal sebagai seorang filsuf dan ilmuwan dilahirkan tahun 980 M di Afsyahnah dekat Bukhara, Persia (sekarang masuk wilayah Uzbekistan). Nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Husayn bin Abdullah bin Sina. Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada bulan Juni 1037 M di Hamadan, Persia (Iran).

Ibnu Sina merupakan tokoh Muslim yang sangat produktif. Karya-karyanya tidak terbatas di bidang kedokteran saja, melainkan juga di bidang filsafat, matematika, logika, akhlak, dan fisika. Total ada sekitar 450 karya yang sampai ke tangan generasi sekarang. Menurut George Sarton, Ibnu Sina merupakan ilmuwan hebat dan paling terkenal dari dunia Islam pada semua bidang, tempat, dan waktu.(rpb) http://www.suaramedia.comWARNA-warni memiliki efek psikologis. Efeknya berpengaruh terhadap pikiran, emosi, tubuh, dan keseimbangan. Aplikasi warna pada sebuah ruangan dapat menghasilkan kesan perasaan yang semakin luas atau justru kebalikannya.

Berikut ini sifat-sifat psikologis beberapa warna:

* Merah – Berani, penuh semangat, agresif, memicu emosi, dan menarik perhatian. Secara positif, warna merah mengandung arti cinta, gairah, berani, kuat, agresif, merdeka, kebebasan, dan hangat. Negatifnya adalah punya arti bahaya, perang, darah, anarki, dan tekanan.

* Kuning – Menciptakan perasaan optimis, percaya diri, pengakuan diri, akrab, dan lebih kreatif. Kuning juga dapat merugikan kita karena menyampaikan pesan perasaan ketakutan, kerapuhan secara emosi, depresi, kegelisahan, dan keputusasaan. Pilihan warna kuning yang tepat dan penggunaan yang sesuai akan mengangkat semangat kita dan lebih percaya diri.

* Hijau – berarti kesehatan, keseimbangan, rileks, dan kemudaan. Unsur negatif warna ini di antaranya memberi kesan pencemburu, licik, terasa jenuh, serta dapat melemahkan pikiran dan fisik. Di dalam sejarah China, warna hijau adalah warna perempuan. Lain dengan budaya muslim, yang menganggap warna hijau adalah warna yang suci. Warna untuk perdamaian juga hijau.

* Biru – Melambangkan intelektualitas, kepercayaan, ketenangan, keadilan, pengabdian, seorang pemikir, konsistensi, dan dingin. Selain itu, dapat memicu rasa depresi dan ragu-ragu. Biru gelap akan membantu berpikir tajam, tampil jernih, dan ringan. Biru muda akan menenangkan dan menolong berkonsentrasi dengan tenang. Terlampau banyak biru akan menimbulkan rasa terlalu dingin, tidak akrab, dan tak punya emosi atau ambisi.

* Ungu – Memberi efek spiritual, kemewahan, keaslian, dan kebenaran. Ungu mampu menunjang kegiatan bermeditasi dan berkontemplasi. Kemerosotan dan mutu yang jelek adalah sifat-sifat negatif warna ini.

* Putih – Warna murni, suci, steril, bersih, sempurna, jujur, sederhana, baik, dan netral. Warna putih melambangkan malaikat dan tim medis. Warna ini juga bisa berarti kematian karena berkonotasi kehampaan, hantu, dan kain kafan.

* Abu-abu – Bijaksana, dewasa, tidak egois, tenang, dan seimbang. Warna abu-abu juga mengandung arti lamban, kuno, lemah, kehabisan energi, dan kotor. Karena warnanya tergolong netral atau seimbang, warna ini banyak dipakai untuk warna alat-alat elektronik, kendaraan, perangkat dapur, dan rumah.

* Hitam – Berkesan elit, elegan, memesona, kuat, agung, teguh, dan rendah hati. Kesan negatifnya adalah hampa, sedih, ancaman, penindasan, putus asa, dosa, kematian, atau bisa juga penyakit. Tak seperti putih yang memantulkan warna, hitam menyerap segala warna. Dengan hitam, segala energi yang datang akan diserap. Walau mampu memesona dan berkarakter kuat, tapi banyak orang yang takut akan “gelap”. Warna hitam berkonotasi gelap. (kompas)
WARNA-warni memiliki efek psikologis. Efeknya berpengaruh terhadap pikiran, emosi, tubuh, dan keseimbangan. Aplikasi warna pada sebuah ruangan dapat menghasilkan kesan perasaan yang semakin luas atau justru kebalikannya.

Berikut ini sifat-sifat psikologis beberapa warna:

* Merah – Berani, penuh semangat, agresif, memicu emosi, dan menarik perhatian. Secara positif, warna merah mengandung arti cinta, gairah, berani, kuat, agresif, merdeka, kebebasan, dan hangat. Negatifnya adalah punya arti bahaya, perang, darah, anarki, dan tekanan.

* Kuning – Menciptakan perasaan optimis, percaya diri, pengakuan diri, akrab, dan lebih kreatif. Kuning juga dapat merugikan kita karena menyampaikan pesan perasaan ketakutan, kerapuhan secara emosi, depresi, kegelisahan, dan keputusasaan. Pilihan warna kuning yang tepat dan penggunaan yang sesuai akan mengangkat semangat kita dan lebih percaya diri.

* Hijau – berarti kesehatan, keseimbangan, rileks, dan kemudaan. Unsur negatif warna ini di antaranya memberi kesan pencemburu, licik, terasa jenuh, serta dapat melemahkan pikiran dan fisik. Di dalam sejarah China, warna hijau adalah warna perempuan. Lain dengan budaya muslim, yang menganggap warna hijau adalah warna yang suci. Warna untuk perdamaian juga hijau.

* Biru – Melambangkan intelektualitas, kepercayaan, ketenangan, keadilan, pengabdian, seorang pemikir, konsistensi, dan dingin. Selain itu, dapat memicu rasa depresi dan ragu-ragu. Biru gelap akan membantu berpikir tajam, tampil jernih, dan ringan. Biru muda akan menenangkan dan menolong berkonsentrasi dengan tenang. Terlampau banyak biru akan menimbulkan rasa terlalu dingin, tidak akrab, dan tak punya emosi atau ambisi.

* Ungu – Memberi efek spiritual, kemewahan, keaslian, dan kebenaran. Ungu mampu menunjang kegiatan bermeditasi dan berkontemplasi. Kemerosotan dan mutu yang jelek adalah sifat-sifat negatif warna ini.

* Putih – Warna murni, suci, steril, bersih, sempurna, jujur, sederhana, baik, dan netral. Warna putih melambangkan malaikat dan tim medis. Warna ini juga bisa berarti kematian karena berkonotasi kehampaan, hantu, dan kain kafan.

* Abu-abu – Bijaksana, dewasa, tidak egois, tenang, dan seimbang. Warna abu-abu juga mengandung arti lamban, kuno, lemah, kehabisan energi, dan kotor. Karena warnanya tergolong netral atau seimbang, warna ini banyak dipakai untuk warna alat-alat elektronik, kendaraan, perangkat dapur, dan rumah.

* Hitam – Berkesan elit, elegan, memesona, kuat, agung, teguh, dan rendah hati. Kesan negatifnya adalah hampa, sedih, ancaman, penindasan, putus asa, dosa, kematian, atau bisa juga penyakit. Tak seperti putih yang memantulkan warna, hitam menyerap segala warna. Dengan hitam, segala energi yang datang akan diserap. Walau mampu memesona dan berkarakter kuat, tapi banyak orang yang takut akan “gelap”. Warna hitam berkonotasi gelap. (kompas)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: